31 Agustus 2007

BANGSA INI SUDAH KEHILANGAN KEWIBAWAAN

Sudah banyak kejadian-kejadian yang membuat hati ini panas menimpa warga Indonesia bukan hanya di Malaysia, tetapi di negara lain seperti Arab Saudi dan negara-negara arab lain di hongkong bahkan di Australia menimpa seorang gubernur. Dari kejadian itu pemerintah kita tidak dapat berbuat apa-apa, seperti mati kutu yang akhirnya bangsa lain semakin melunjak dan menginjak kepala.
Semuanya itu terjadi karena bangsa ini sudah kehilangan kewibawaan di dunia internasional. Kita takut kalau berbuat tegas kepada negara tersebut, karena kita masih menggantungkan diri dan banyak kepentingan. Begitu satu pihak mendesak pemerintah untuk bertindak tegas, fihak lain cepat-cepat berteriak dan mengeluarkan analisa-analisa tentang kemungkinan perekonomian yang akan semakin sulit apabila kita melakukan tindakan tegas.
Menurut saya ketakutan-ketakutan yang seperti itu adalah ketakutan dari orang-orang yang tidak memiliki kreatifitas dan inovasi. Kalau kita kreatif tidak perlu menggantungkan diri kepada hanya satu negara masih banyak negara lain yang mau bekerjasama dengan negara ini.
Sekarang kejadian dengan malaysia, kita lagi-lagi tidak dapat berbuat apa-apa. Setelah pulau-pulau kita diambil mereka apalagi yang kita punya? harga diripun kita sudah tidak ada. Begitu kita menuntut malaysia untuk minta maaf, dan malaysia tidak mau pemerintah kita tidak dapat berbuat apa-apa. Tanya kenapa?

Tentu karena ketakutan kita terhadap nasib para TKI. Padahal menurut saya seandainya kita menarik seluruh TKI dari malaysia, mereka akan kerepotan. Kebun-kebun sawit mereka akan hancur, justru pada saat itulah kita bisa berkembang lagi menjadi penghasil CPO terbesar.

Banyaknya TKI yang diekspor ke malaysia juga merupakan kesalahan dari pemerintah yang tidak dapat memberikan kesejahteraan terhadap rakyatnya. Pemerintah baru dapat memberikan kesejahteraan kepada para anggota dewan yang jumlahnya hanya beberapa ribu saja. Seandainya pemerintah bisa menaikan UMR dan gaji pegawai sama dengan di negeri tetangga tentu mereka tidak perlu jauh-jauh hanya untuk menjadi PRT karena di Indonesiapun sudah banyak keluarga yang mampu menggaji mereka sebesar gaji di negeri tetangga. Tetapi keinginan itu tidak ada sama sekali.
Kalau urusan harga-harga pemerintah selalu mengacu kepada harga-harga di negara lain. Contohnya tarif Tol, tarif listrik, telpon, Harga BBM dan sebagainya selalu mengacu kepada negara lain. Tetapi kalau masalah gaji dan upah tidak mau sama. bagai mana bisa?